Pelajaran berharga tentang kemandirian dan kesaling-tergantungan

Pernah suatu saat saya baca buku yang bejudul “seven habbit of highly effective people” yang salah satu intinya menekankan pentingnya independensi (kemandirian) dan inter-dependensi (kesaling-tergantungan). Sudah lama sekali saya tidak memikirkan tentang hal ini sebenarnya,  sampai terakhir mendapatkan masalah yang seharusnya tidak terjadi kalau saya menerapkan prinsip tadi.

Ceritanya beberapa bulan lalu saya mendapatkan project atas rekomendasi seorang teman, nilainya pun tidak terlalu besar sebenarnya dibandingkan denga effort yang harus di lakukan (di saat terakhir saya baru menyadarinya). Singkat cerita project ini pun gagal dan saya harus mengembalikan semua down payment yang sudah di berikan oleh sang  pelanggan.

Pertimbangan  terbesar kenapa saya kill project tapi adalah karena saya kehabisan energi, bukan hanya finansial tapi juga tenaga dan pikiran. Dari awal pengerjaan project tadi, terjadi pengantian programmer 3 kali dengan alasan yang tidak jelas (karena saya juga tidak mau mencari alasannya). Kesalahan saya waktu itu dengan seorang yang keluar waktu ongoing project bisa dengan mudah saya gantikan dengan tim lainnya dan saya tidak terlalu memperdulikannya. Saya merasa sudah Independent tidak tergantung dengan orang lain termasuk tim saya.

Hal ini menjadi fatal ketika menyusul keluar seorang programmer lainnya dan akhirnya harus mencari programmer freelance untuk melanjutkan project itu. Sayangnya programmer freelance itu tidak bisa menyelesaikannya dan akhirnya harus saya hentikan project itu. Padahal  hampir semua DP tapi sudah terserap untuk biaya operasional project ini.

Keputusan untuk “killing” project ini adalah hal yang sulit sebenarnya karena bukan kondisi yang win-win bagi semua pihak. Terus terang juga melibatkan unsur emosi yang tidak bisa saya ceritakan disini. Namun dari itu semua banyak pelajaran berharga yang bisa diambil khususnya hubungannya dengan prinsip kesaling-tergantungan tadi.

Saya semakin faham dan sadar setelah itu, untuk menjadi pemimipin efektif yang memimpin perusahaan menuju perusahaan yang efektif  dibutuhkan seorang pribadi yang efektif. Efektifitas tidak bisa diraih hanya dengan kemandirian, tapi harus dengan kesaling-tergantungan/ sinergi yang efektif pula dengan seluruh pribadi-pribadi yang mandiri di dalam maupun diluar organisasi perusahaan.

Hal ini sesuai dengan fitrah manusia sebagai mahluk sosial yang mebutuhkan orang lain. Namun disebutkan diatas  kesaling tergantungan bisa efektif jika dilakukan oleh pribadi-pribadi yang mandiri, bukan pribadi yang belum mandiri. Karena yang jika ada pribadi yang belum mandiri yag terjadi adalah  simbiosis parasitisme bukannya simbiosis mutualisme atau saling menguntungkan.

Jadi kesimpulannya dari itusemua adalah adalah:

  • Dengan menjadi mandiri belum menjamin seorang pemimpin/pribadi menjadi efektif, justru sebaliknya bisa menajadi tidak efektif.
  • Ke-efektif-an akan mudah dicapai dengan interdependensi atau dengan saling tergantung/sinergi dengan orang lain.
  • Kesaling-tergantungan tadi bisa efektif terjadi jika dilakukan oleh masing-masing pribadi yang mandiri/independen.
  • PR bagi kita semua khususnya bagi saya sendiri untuk menjadi pribadi yang mandiri dan kemudian bisa bersinergi dengan pribadi mandiri lainnya untuk menjadi pribadi yang efektif dalam mencapai tujuan hidup kita.

Mudah-mudahan bermanfaat, terimakasih.

note:

Tidak terasa lama gak nulis blog, padahal sekarang punya blog satu lagi yang baru. bagi yang tertarik untuk memeriahkan Inetpreneur bisa akses di http://blog.jagadmedia.com

Popularity: 23% [?]

Posting Terkait

4 Comments so far »

  1. syaifudin zuhri said,

    Wrote on August 30, 2008 @ 1:14 pm

    wah pengalaman nyata, menginspirasi nich

  2. ishaq said,

    Wrote on August 31, 2008 @ 11:22 am

    alhamdulillah, terima kasih mas agung, pengalaman memang mahal harganya. jadi pelajaran mas agung pun jg sangat mahal nilai nya buat saya,

    yang penting itu setiap yg terjadi didalam kehidupan kita adalah buah hasil dari tanaman perbuatan qta. n pupuk doa qta yang tanpa qta sadari atau tidak semua telah qta lalui, jadi kesimpulan nya Qta tanam kan dulu berbuat yang terbaik,n qta pupuk dgn doa, tetap istiqomah.
    insya allah hasilnya akan terjawab dengan baik. amin.

    sukses slalu yaaa mas agung.
    wassalam.

  3. lbsfighter said,

    Wrote on September 11, 2008 @ 5:07 pm

    jd klu gitu kemandirian itu nggak ada dong, toch setiap individu pasti akan memiliki ketergantungan dengan orang lain dan lingkungan disekitarnya

  4. Hejis said,

    Wrote on October 2, 2008 @ 6:13 pm

    Saya setuju dengan Mas Firdaus tentang kesaling-tergantungan itu. Berdasarkan trend global siklus pemberdayaan diri adalah: refleksi-kompetensi-kompetisi-kolaborasi. Lalu kembali lagi ke refleksi. Salam kenal mas Firdaus, Selamat Idul Fitri 1429 H. Mohon maaf lahir batin. Juga untuk yang membaca ini.

Comment RSS · TrackBack URI

Leave a Comment

Name: (Required)

E-mail: (Required)

Website:

Comment: